Review Buku Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer

Identitas Buku

Judul: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Jumlah Halaman: 547 halaman
ISBN: 978-979-97312-4-1

Blurb Buku:

Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusasteraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. Karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dari sisinya yang berbeda.

Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode.

Roman kedua Tetralogi, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan di selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pegerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.


Review Buku:

Buku ini merupakan buku kedua dari Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer setelah seri pertamanya yaitu Bumi Manusia. Setelah selesai membaca buku Bumi Manusia, rasanya 'wajib' bagi aku untuk lanjut membaca buku Anak Semua Bangsa. Hal ini karena rasa penasaranku yang sangat besar mengenai nasib Minke dan Nyai, bagaimana kehidupan Annelies setelah dibawa paksa pergi ke Belanda, dan nasib perusahaan Buitenzorg

Minke pada awalnya merupakan seorang anak yang sangat mendewakan Eropa dari segala sisi, terlihat dari pemikirannya yang serba Eropa, caranya berpakaian, cara berbicara dan menulis menggunakan bahasa Eropa. Namun pada buku ini, diceritakan Minke mulai mengetahui bahwa Eropa, bangsa yang diagung-agungkannya itu hanyalah seorang penjajah yang berlaku semena-mena dengan merampas apapun yang mereka inginkan. 

Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis. Dan satu yang tetap, Nak, abadi: yang kolonial, dia selalu iblis. - Anak Semua Bangsa, halaman 110

Minke juga didesak oleh sahabatnya Jean Marais dan Kommer untuk menulis dalam Melayu, bahasa bangsanya sendiri dan ia juga disindir oleh sahabatnya sebagai orang yang tidak mengenal bangsanya sendiri. Dari sindiran inilah Minke menajdi tertantang untuk melihat langsung masalah yang terjadi dan mencoba lebih mengenal bangsanya.

Dalam perjalanan mengenal bangsanya ini Minke dihadapkan pada berbagai macam persoalan yang menimpa pribumi. Mulai dari anak gadis yang diambil dan dijadikan gundik secara paksa persis seperti kejadian Nyai Ontosoroh, serta tanah pertanian masyarakat yang diambil seenaknya. Pramoedya sangat berhasil dalam menggambarkan bagaimana kekejian dan kecurangan yang dilakukan bangsa Eropa terhadap pribumi pada masa itu


Anak Semua Bangsa menjadi buku favorit aku dari karya Pramoedya Ananta Toer. Pada buku ini aku benar-benar ikut merasakan dan seperti terbawa kedalam cerita. Pada beberapa bagian aku menitikkan air mata karena melihat betapa kejam dan kejinya perbuatan bangsa Eropa pada saat itu. Pada beberapa bagian juga aku ikut merasakan ketegangan melihat betapa gigihnya Minke dan Nyai Ontosoroh untuk mempertahankan haknya. 

Walaupun buku ini tergolong kedalam buku yang sangat berat dan perlu konstentrasi penuh ketika membaca, aku tetap bilang kalau buku ini wajib banget untuk dibaca sertabuku ini juga menjadi salah satu buku yang harus dibaca setiap orang minimal satu kali dalam hidup, karena sebanyak itu pelajaran yang akan kita dapat setelah membacanya. 


Indonesia Website Awards